PIDIE JAYA — Arus transportasi Banda Aceh–Medan kembali normal setelah oprit jembatan Krueng Meureudu di Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, selesai diperbaiki Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Jumat, 12 Desember 2025.
Perbaikan yang berlangsung selama sepuluh hari itu menjadi titik krusial pemulihan akses pascabencana banjir bandang di Pidie Jaya.
Jembatan tersebut sebelumnya terputus sekitar tiga meter akibat terjangan banjir bandang pada 26 November 2025 yang merusak rumah warga, sawah produktif, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Gubernur Aceh Muzakir Manaf Ungkap Kondisi Pascabencana Banjir Bandang, Distribusi Bantuan Terus Dipercepat "Kerja keras BPJN Aceh telah berhasil menangani oprit jembatan melintasi Krueng Meureudu," ujar Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, dalam rekaman video yang beredar pada Jumat.
Ia memastikan jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan kini bisa dilintasi kendaraan dari dua arah. Meski demikian, ia mengimbau pengendara tetap berhati-hati.
Sibral menjelaskan bahwa perbaikan oprit jembatan masih berstatus darurat. Permukaan oprit belum diaspal sehingga rawan licin, terutama ketika hujan.
"Pengendara dari Banda Aceh maupun Medan harus tetap berhati-hati saat melintasi jembatan di Krueng Meureudu," kata Sibral.
Keuchik Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Tgk Mursalin, mengatakan jembatan Krueng Meureudu merupakan jalur vital bagi warganya.
Saat jembatan ambruk, warga terpaksa memasang batang pinang sebagai jalur darurat agar bisa melintas.
"Alhamdulillah, kini telah selesai diperbaiki. Akses transportasi telah normal kembali," ujar Mursalin.
Sebanyak 16 rumah di gampongnya hilang terseret banjir bandang. Sebagian besar warga kini mengungsi di Gampong Sarah Manee selama lebih dari dua pekan terakhir.
Lhok Sandeng, yang berpenduduk 300 jiwa dari 54 KK, berada sekitar 14 kilometer dari pusat Kabupaten Pidie Jaya dan berbatasan dengan kawasan perkebunan sawit.*