ACEH TAMIANG — Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh, Dr. Iskandar Muda Hasibuan, menilai bahwa dampak banjir besar yang melanda Aceh Tamiang dalam beberapa hari terakhir memiliki skala kerusakan yang jauh lebih luas dibanding bencana tsunami 2004.
Hal itu ia sampaikan saat melakukan misi kemanusiaan ke sejumlah sekolah Muhammadiyah di Kota Langsa dan Aceh Tamiang, Sabtu, 7 Desember.
Iskandar meninjau langsung kondisi para pengungsi di Paya Bedi dan bersilaturahmi dengan Ketua PDM Aceh Tamiang, Tgk. Muchlis. Ia menyebut kerusakan infrastruktur pendidikan dan permukiman warga sangat memprihatinkan.
Baca Juga: Di Tengah Genangan Air, Aisyiyah Menyalurkan Harapan dan Bantuan "Apa yang saya lihat di Aceh Tamiang ini jauh lebih dahsyat daripada yang saya saksikan saat tsunami 2004. Kerusakannya menyeluruh, warga kehilangan rumah, sekolah-sekolah terendam lumpur, dan anak-anak kehilangan ruang belajar," ujar Iskandar.
Dalam kunjungan tersebut, Iskandar juga menyerahkan bantuan khusus untuk pembersihan fasilitas pendidikan Muhammadiyah yang terdampak banjir, termasuk ruang kelas, perpustakaan, sarana ibadah, dan fasilitas belajar lainnya.
Bantuan diterima langsung oleh PDM Aceh Tamiang untuk segera didistribusikan ke lokasi terdampak.
Ia menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk nyata solidaritas di tengah bencana.
"Misi kemanusiaan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi panggilan persaudaraan. Sesama muslim kita dituntun untuk saling tolong-menolong, saling menguatkan, dan hadir ketika saudara kita membutuhkan. Pendidikan dan kemanusiaan tidak boleh dipisahkan," katanya.
Majelis Dikdasmen PWM Aceh berharap dukungan ini dapat mempercepat pemulihan aktivitas belajar-mengajar serta mengembalikan semangat para siswa dan guru.
Iskandar menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berkomitmen berada di garda depan, baik dalam fase tanggap darurat maupun pemulihan pascabencana.*
(dh)