BANDA ACEH — Kenaikan harga pangan di Aceh sempat memicu kekhawatiran masyarakat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan di provinsi tersebut mencukupi, sehingga harga diperkirakan akan segera stabil.
Menurut Amran, stok beras di Aceh mencapai 81.000 ton, dengan surplus produksi 871.000 ton.
Baca Juga: Mentan Targetkan Pemulihan 40 Ribu Hektare Sawah Terdampak Banjir dalam Dua Bulan "Jadi berasnya banyak. Tinggal distribusinya. Kalau naik sedikit wajar, tapi nanti turun banyak. Berasnya ada, sudah di Aceh," ujar Amran di Jakarta, Jumat, 5 Desember 2025.
Kondisi serupa terjadi di daerah bencana lain, seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang masing-masing memiliki stok beras 29.000 ton dan 7.000 ton.
Kepala Badan Pangan Nasional menambahkan, pemerintah menyiapkan stok tiga kali lipat dari kebutuhan untuk wilayah terdampak banjir.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Kementerian Pertanian telah mengumpulkan bantuan dari pegawai, pengusaha, dan masyarakat senilai Rp 75 miliar.
Tahap pertama telah dikirim sebanyak 207 truk, senilai Rp 34,8 miliar, melalui kapal perang TNI AL KRI Banda Aceh 593 dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Bantuan berisi beras 25 ton, minyak goreng 35 ton, gula 38 ton, susu 1.780 dus, mi instan 3.115 dus, air mineral 2.480 dus, serta berbagai kebutuhan pokok dan perlengkapan lain, termasuk obat-obatan dan genset.
Meski stok mencukupi, harga beberapa komoditas seperti telur, cabai, dan bawang melonjak karena pasokan terganggu.
Banda Aceh menunjukkan harga cabai merah mencapai Rp 250.000 per kilogram, bawang bombay Rp 40.000 per kilogram, dan bawang merah Rp 50.000 per kilogram. Beberapa pedagang bahkan tidak berjualan karena stok terbatas.
Amran menegaskan, kenaikan harga ini bersifat sementara dan akan menurun seiring lancarnya distribusi.