JAKARTA- Tangis pecah di Istana Negara, Senin pagi, 10 November 2025.
Di antara barisan keluarga penerima gelar Pahlawan Nasional, Marsini kakak dari mendiang aktivis buruh Marsinah tak kuasa menahan air mata saat nama adiknya disebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional 2025.
Kini, perjuangan Marsinah diabadikan negara lewat Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025.
Baca Juga: Polda Sumut Peringati Hari Pahlawan 2025: Teladani Nilai Perjuangan, Wujudkan Indonesia Maju Namanya resmi sejajar dengan para tokoh bangsa seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Soeharto, dan Sarwo Edhie Wibowo.
"Marsinah yang dulu masih kecil, untuk sampai SMP saja berat sekali," ujar Marsini dengan suara bergetar usai upacara.
Ia mengenang adiknya yang sejak kecil hidup dalam keterbatasan dan berpindah-pindah rumah setelah kehilangan kedua orang tua.
Dengan sepeda onthel merah, Marsinah kecil berangkat sekolah sendirian menembus jalanan desa Nganjuk.
"Dulu saya tak pernah membayangkan adikku, yang cuma punya semangat belajar dan keberanian itu, bisa menjadi pahlawan bagi Indonesia," kata Marsini sambil terisak.
Marsini menilai penghargaan ini bukan sekadar pengakuan terhadap Marsinah sebagai pribadi, tetapi juga penghormatan bagi seluruh buruh Indonesia, khususnya perempuan pekerja yang memperjuangkan haknya.
"Gelar ini untuk semua buruh, terutama perempuan yang tak pernah lelah memperjuangkan keadilan," ucapnya.
Marsinah dikenal sebagai aktivis buruh muda yang menuntut keadilan di pabrik tempatnya bekerja di Sidoarjo, Jawa Timur, pada awal 1990-an.
Ia ditemukan meninggal dunia pada Mei 1993, dalam usia 24 tahun. Kasusnya menjadi simbol perjuangan buruh melawan represi dan ketidakadilan di masa Orde Baru.