PARAPAT – Pengamat politik sekaligus filsuf, Rocky Gerung, kembali melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah, kali ini menyoroti proyek kereta cepat Indonesia–China yang menuai polemik publik.
Hal tersebut disampaikan Rocky saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Launching Semangat Baru Indonesia" yang digelar di Hotel Khas Parapat, Kabupaten Simalungun, Minggu (19/10/2025) siang.
Dalam paparannya, Rocky mempertanyakan kecerdasan bangsa Indonesia yang menurutnya masih mudah tertipu oleh kepentingan negara lain.
Baca Juga: Utang Whoosh Bikin Heboh, CEO Danantara Singgung Xi Jinping "Sudahkah kita cerdas sebagai bangsa? Sudah, tapi kenapa ditipu oleh China dalam soal kereta cepat," ujar Rocky disambut riuh peserta.
Tak hanya menyoroti proyek transportasi tersebut, Rocky juga mengaitkannya dengan kondisi sosial dalam negeri, khususnya tingginya angka stunting yang menurutnya bertentangan dengan amanat konstitusi.
"Sudahkah kita memelihara fakir miskin sesuai konstitusi kita? Tapi mengapa stunting kita 20–24 persen. Itu artinya satu dari empat bayi gagal berpikir, mengalami shrinking atau penyusutan otak," katanya.
Rocky menilai, dengan kondisi tersebut, bonus demografi 2045 yang sering digaungkan pemerintah sulit terwujud jika persoalan stunting tidak segera diatasi.
"Bagaimana menuju bonus demografi kalau angka stunting masih 27–24–20 persen. Ini petunjuk bahwa pemerintah saat ini mengabaikan konstitusi," tegasnya.
Masih dalam suasana santai namun penuh sindiran, Rocky kemudian melontarkan candaan politik yang menyinggung soal "kereta cepat dari Solo ke Cipinang", yang membuat para peserta tertawa.
"Naik kereta dari Solo ke Cipinang, supaya dipercepat masuk ke Cipinang. Itu mesti kita ucapkan dalam bentuk kejujuran," ujarnya disambut tawa hadirin.
Menurut Rocky, gerakan "Semangat Baru Indonesia" yang diinisiasi sejumlah tokoh nasional harus dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali nilai kejujuran dan keberanian moral yang diwariskan para pendiri bangsa.
"Semangat Baru bukan mengedit kejujuran, tetapi menghasilkan ulang kejujuran pendiri bangsa," tutupnya.