JAKARTA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Wanda Kuswanda, menegaskan bahwa Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) perlu ditetapkan sebagai salah satu spesies prioritas konservasi. Pasalnya, spesies ini menghadapi ancaman serius yang berpotensi mengikis populasinya secara drastis.
Dalam diskusi daring yang digelar oleh Belantara Foundation, Kamis (4/9), Wanda menyampaikan bahwa Orangutan Tapanuli merupakan spesies orangutan tertua dan paling langka yang hanya ditemukan di lanskap Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
"Populasinya kini hanya tersisa sekitar 577–760 individu di area habitat sekitar 240–280 ribu hektare yang telah mengalami degradasi," ujar Wanda, yang juga peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN.
Ancaman Serius: Inbreeding dan Konflik dengan Manusia
Kondisi habitat yang terus menyempit meningkatkan risiko inbreeding (perkawinan sedarah) yang bisa menurunkan keragaman genetik dan mengancam keberlangsungan spesies.
Selain itu, Wanda menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas manusia seperti pertanian, perkebunan, dan pembukaan lahan menyebabkan konflik. Orangutan sering dianggap hama oleh warga karena memakan hasil kebun, padahal hal ini terjadi karena habitat alami mereka rusak.
"Akibat interaksi negatif ini, terjadi pengusiran hingga kematian orangutan yang stres karena terusir dari wilayahnya sendiri," kata Wanda.
Restorasi dan Ekowisata Jadi Solusi
Untuk menyelamatkan spesies ini, BRIN mendorong pendekatan koeksistensi antara manusia dan satwa liar. Solusi jangka panjang yang ditawarkan mencakup:
Restorasi habitat dan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan fragmen hutan.