Perekonomian 2025: Analis Sebut Daya Beli dan Investasi Jadi Kunci Tercapainya Target Pertumbuhan 5,2%

BITVonline.com - Jumat, 03 Januari 2025 16:21 WIB

JAKARTA – Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, berpendapat bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2025 dapat tercapai, asalkan pemerintah dapat menjaga daya beli masyarakat yang telah menurun selama dua tahun terakhir. Ronny menjelaskan bahwa daya beli masyarakat mempengaruhi konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi. “Konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama bagi perekonomian kita, sekitar 53 persen,” kata Ronny dalam keterangannya, Jumat (3/1/2025).

Menurutnya, jika konsumsi rumah tangga terkontraksi, hal ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan mempengaruhi tercapainya target 5,2 persen. “Selama pemerintahan Prabowo bisa menjaga daya beli masyarakat, menjaga tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga minimal sama dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen atau 4,5 persen, ini akan memastikan tercapainya 5,2 persen,” paparnya. Selain itu, pemerintah juga perlu fokus pada peningkatan investasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

“Lapangan pekerjaan tidak banyak disediakan oleh pemerintah maupun oleh proyek pemerintah. Investasi sangat menentukan terserap tidaknya angkatan kerja, baik yang sudah menganggur maupun angkatan kerja baru,” lanjutnya. Ronny juga menambahkan, apabila investasi cukup tinggi dan mampu menyerap tenaga kerja, maka pengangguran akan berkurang. Namun, jika investasi terhambat, jumlah pengangguran akan bertambah dan mengurangi daya beli masyarakat. “Semakin banyak orang yang tidak menerima pendapatan, maka semakin banyak orang yang menahan dan mengurangi konsumsinya,” tegasnya.

Tantangan lainnya adalah memastikan belanja pemerintah, baik pembangunan maupun belanja rutin, dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. “Pada era pemerintahan Presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur sangat diprioritaskan, namun pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5 persen, jauh dari target 7 persen,” ungkap Ronny. Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan pemerintahan Prabowo adalah memastikan bahwa belanja pemerintah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, Ronny menyoroti pentingnya kinerja ekspor Indonesia. Meskipun kontribusi ekspor terhadap perekonomian tidak terlalu besar, ekspor dapat membuka peluang lapangan pekerjaan di dalam negeri. “Ekspor dapat membuka lapangan pekerjaan karena semakin besar ekspor kita, semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang yang diekspor,” ujarnya.

(CHRISTIE)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Nasional

PSI Sebut Kader NasDem Bakal Merapat, Pengumuman Disiapkan Jadi “Kejutan”

Nasional

Usai SP3, Rismon Sianipar Tantang Roy Suryo Debat Terbuka Soal Ijazah Jokowi: Gak Usah Bawa Cheerleader!

Nasional

Menaker Ingin Itjen Tak Lagi Sekadar Cari Temuan, Tapi Cegah Masalah Sejak Awal

Nasional

Kapolda Aceh: Revisi UUPA Harus Sesuai Kebutuhan Nyata Masyarakat

Nasional

Mualem Usul Dana Otsus Aceh Naik Jadi 2,5 Persen dalam Rapat Revisi UUPA di DPR: Minimal, Kalau Bisa Lebih

Nasional

Wagub Aceh Dorong UMKM dan BUMDes Jadi Motor Ekonomi di Program MBG Pascabencana