GAZA – Pada suatu pernyataan sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan bahwa ia telah memberikan perintah kepada pasukan militernya untuk bersiap-siap memasuki sebuah kota yang dipenuhi oleh pengungsi Palestina. Tujuan dari perintah tersebut adalah untuk mengejar para pelaku yang bertanggung jawab atas serangan yang menimbulkan korban jiwa pada 7 Oktober di bagian selatan Israel.
Pengumuman Netanyahu ini telah menimbulkan kekhawatiran yang meluas, tidak hanya dari pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat, tetapi juga dari lembaga-lembaga bantuan yang tengah berjuang menangani krisis kemanusiaan yang semakin meruncing di Gaza akibat perang yang berkepanjangan.
Hamas, kelompok milisi Palestina yang menguasai Jalur Gaza, menyampaikan pernyataan bahwa segala tindakan militer yang dilakukan akan mengakibatkan dampak bencana yang mengerikan, terutama jika kota Rafah diserbu. Mereka menegaskan bahwa serangan semacam itu dapat mengakibatkan puluhan ribu orang menjadi korban syahid atau terluka.
Rafah, sebuah kota yang berada di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir, telah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga sipil Palestina yang berusaha melarikan diri dari serangkaian serangan udara yang tak kenal henti dari pihak Israel. Menurut PBB, sekitar setengah dari total populasi Gaza yang berjumlah 2,4 juta orang saat ini mencari perlindungan di kota tersebut.
Banyak dari pengungsi tersebut terpaksa menghuni tenda-tenda sementara dan tempat penampungan yang sangat terbatas, sementara kekhawatiran akan kekurangan makanan, air bersih, dan fasilitas sanitasi semakin meningkat. Situasi ini menunjukkan eskalasi krisis kemanusiaan yang memprihatinkan di kawasan tersebut, dengan dampak yang sangat merugikan bagi kehidupan dan kesejahteraan para pengungsi yang sudah terpukul oleh konflik yang berkepanjangan.
(A/08)