MOSKOW – Kepolisian Rusia menanggapi dengan tegas terhadap aksi-aksi solidaritas yang muncul pasca-kematian tokoh oposisi terkenal, Alexei Navalny. Lebih dari 100 orang ditahan karena hadir dalam acara memorial yang digelar secara spontan untuk menghormati Navalny, yang meninggal dunia saat menjalani masa hukuman di penjara. Navalny, seorang pengacara karismatik dan kritikus keras Kremlin, merupakan salah satu tokoh oposisi paling vokal terhadap pemerintahan Presiden Vladimir Putin.
Kematian Navalny memicu gelombang kesedihan di kalangan pendukungnya, yang segera berkumpul di berbagai wilayah Rusia untuk meletakkan bunga sebagai tanda penghormatan. Namun, aksi tersebut dihadapi dengan tindakan keras dari pihak berwenang, dengan lebih dari 100 orang ditahan, menurut laporan kelompok HAM OVD-Info.
Polisi melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang hadir dalam acara penghormatan tersebut di setidaknya 10 kota berbeda di Rusia, termasuk Moskow, Saint Petersburg, Nizhny Novgorod, Krasnodar, Rostov-on-Don, dan Tver. Kota-kota besar seperti Saint Petersburg dan Moskow menjadi pusat penahanan terbesar, dengan 64 dan 11 orang ditahan secara berturut-turut.
Meskipun aksi-aksi penghormatan tersebut diadakan secara damai, respons keras pemerintah menunjukkan ketegangan yang ada antara otoritas dan pendukung Navalny. Hal ini juga menyoroti kendala dalam ruang lingkup kebebasan berpendapat dan berkumpul di Rusia, yang sering kali menjadi sorotan dunia internasional.
(A/08)