Museum Inggris Diteror Desak Kembalikan Patung Moai

BITVonline.com - Jumat, 23 Februari 2024 05:10 WIB

INGGRIS -British Museum, sebuah ikon budaya di Inggris, kembali menjadi sorotan ketika kampanye daring dari Chile menyerukan pengembalian dua patung moai yang telah lama dipajang di museum tersebut. Patung batu moai, asli dari Pulau Rapa Nui atau Pulau Paskah, menjadi pusat perdebatan setelah influencer media sosial Chili, Mike Milfort, menggerakkan para pengikutnya untuk menuntut “kembalikan moai” dalam komentar unggahan Instagram British Museum.

Pulau Rapa Nui, terletak di sekitar 3.700 kilometer dari pantai Chile, telah menjadi rumah bagi berbagai patung moai yang menjadi simbol budaya yang kuat. Namun, patung-patung tersebut tidak hanya menjadi pemandangan di pulau itu sendiri; beberapa di antaranya telah tersebar di museum-museum di seluruh dunia. Salah satu patung moai yang menjadi sorotan dalam kampanye ini adalah Hoa Hakananai’a, yang kini menjadi bagian dari koleksi British Museum.

Kampanye ini menyoroti isu pengembalian artefak budaya ke negara asalnya, sebuah isu yang semakin sering muncul di tengah perdebatan tentang restitusi budaya. Para pendukung kampanye menganggap penting untuk memulihkan artefak budaya ke tempat asalnya sebagai tindakan restoratif dan pengakuan atas sejarah kolonialisme yang melibatkan pencurian budaya.

Namun, museum tersebut menegaskan bahwa keputusan untuk mempertahankan atau mengembalikan artefak harus dipertimbangkan secara matang. Mereka mencatat bahwa hubungan mereka dengan komunitas Rapa Nui telah terbuka dan positif, dengan beberapa kunjungan dari warga Pulau Rapa Nui ke London sejak tahun 2018.

Perdebatan tentang pengembalian artefak budaya tidak hanya terbatas pada British Museum; museum di seluruh dunia telah menjadi pusat perhatian atas isu-isu ini. Misalnya, tahun lalu perdana menteri Yunani menyerukan pengembalian Patung Parthenon atau Kelereng Elgin dari museum. Ini adalah bagian dari serangkaian perdebatan yang lebih luas tentang kewajiban etis dan moral museum terkait artefak budaya yang mereka miliki.

Dalam konteks yang lebih luas, isu restitusi budaya mencerminkan upaya global untuk memahami dan menyelesaikan ketidaksetaraan budaya dan sejarah yang terjadi selama berabad-abad. Kampanye seperti yang dilakukan oleh pengguna media sosial di Chile adalah salah satu contoh bagaimana masyarakat sipil menggunakan platform daring untuk menggerakkan perubahan sosial dan menyoroti isu-isu penting dalam konteks global.

Dalam menghadapi tuntutan ini, museum di seluruh dunia diuji untuk menemukan keseimbangan antara pertimbangan etis, sejarah, dan hubungan antarbudaya. Meskipun perdebatan tentang pengembalian artefak budaya mungkin kompleks dan sensitif, mereka memainkan peran penting dalam memperdalam pemahaman kita tentang warisan budaya global dan menciptakan jalan menuju rekonsiliasi yang lebih luas.

(K/09)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Sekda Medan Serahkan Rp50 Juta untuk Renovasi Masjid Istiqna, Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Hapus Stigma “Anak Tiri” Kota: Rico Waas Janjikan Pembangunan Besar-Besaran di Medan Utara, 35% Anggaran Dialokasikan

Nasional

Wali Kota Medan Ajak Masyarakat Hidupkan Tradisi Belajar Mengaji di Tengah Banyaknya Masjid

Nasional

Mudik Bareng Pemko Medan 2026, Rico Waas Lepas 4.000 Warga Pulang Kampung: Mudik Aman, Keluarga Senang!

Nasional

Wali Kota Rico Waas Bagikan 2.000 Paket Sembako, Ajak Masyarakat Bersama-sama Bangun Medan: Kita Solid, Kita Kuat!

Nasional

Isu Setoran Pengamanan Di Mandailing Natal Dibantah Kejaksaan, Sebut Pemberitaan Tidak Berdasar