BLORA – Sejumlah wilayah di Indonesia sudah memasuki masa panen pada akhir Februari hingga Maret, seperti wilayah Grobogan dan Blora Jawa Tengah.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengungkapkan bahwa dengan dimulainya masa panen, harga beras diprediksi akan mengalami koreksi turun yang signifikan. Menurutnya, hasil survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa pada Maret 2024, akan terjadi panen sebanyak 3,5 juta ton beras. “Panen yang baik artinya harga beras akan mengalami koreksi turun,” ungkap Arief seperti yang dilansir oleh Media Indonesia.
Meskipun demikian, Arief menegaskan bahwa penurunan harga beras tidak akan terjadi secara langsung, melainkan secara bertahap, terutama dalam proses penurunan di tingkat penjual eceran. “Biasanya tidak langsung (turun harga beras), karena perlu mengisi kekosongan sebelumnya dulu,” jelasnya.
Masa panen yang diharapkan memberikan dampak positif ini menjadi angin segar bagi konsumen di tengah tantangan ekonomi yang sedang dihadapi. Dengan turunnya harga beras, diharapkan dapat membantu meringankan beban biaya hidup masyarakat, terutama mereka yang rentan terdampak oleh kenaikan harga pangan.
Koreksi harga beras ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk terus meningkatkan stabilitas harga pangan dan memastikan ketersediaan beras yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat. Sebagai negara agraris dengan mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian, upaya untuk menjaga stabilitas harga beras menjadi salah satu prioritas penting dalam menjaga kesejahteraan rakyat.
Dengan demikian, diharapkan bahwa koreksi harga beras yang diprediksi akan terjadi dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, serta meningkatkan ketahanan pangan secara keseluruhan.
(FZ/011)