JAKARTA – Serangan Iran terhadap Israel telah menimbulkan kekhawatiran global, termasuk di Indonesia. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar, Bobby Adhityo Rizaldi, menyoroti potensi dampak negatif yang bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan di wilayah ini. Dalam wawancaranya, Bobby menggarisbawahi pentingnya antisipasi dan strategi kebijakan untuk menghadapi kemungkinan konflik yang berkepanjangan.
Menurut Bobby, Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan ketegangan di Timur Tengah yang dapat mengganggu rantai pasokan minyak dari negara-negara seperti Azerbaijan dan Saudi melalui Selat Hormuz. “Bila tidak terelakkan, tentu Indonesia harus bersiap, utamanya kesiapan rantai pasokan minyak dari Azerbaijan dan Saudi menghadapi kemungkinan konflik di Selat Hormuz,” ujar Bobby 15 April 2024.
Salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah gangguan terhadap harga minyak, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan pasokan komoditas impor seperti gandum. Bobby menyoroti pentingnya melindungi nilai tukar rupiah melalui strategi hedging terhadap dolar AS untuk menjaga stabilitas cadangan devisa dan menghindari penurunan ekspor-impor yang signifikan. “Hedging terhadap dollar juga harus mulai dilakukan agar cadangan devisa tidak tergerus dalam hal exposure hutang luar negeri,” katanya.
Meski menggarisbawahi pentingnya antisipasi dan strategi kebijakan, Bobby juga menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia tidak akan terlalu terdampak secara signifikan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. “Insyaallah Indonesia sebagai negara muslim terbesar, tidak atau minim dampak nya bila ada krisis Iran seperti 8 Januari 2020 kemarin, dengan kebijakan LN bebas aktif tidak mencampuri konflik, dan akan partisipasi dalam isu internasional dalam konteks melindungi kepentingan dalam negeri,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah konkret dalam menghadapi potensi dampak serangan Iran terhadap Israel ini. Antisipasi terhadap gangguan pasokan minyak dan komoditas impor, serta strategi kebijakan dalam melindungi nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan, menjadi kunci dalam menjaga kestabilan dan keamanan dalam negeri di tengah ketegangan global.
(K/09)