Gelombang Kebangkrutan Mengguncang Jepang: Lebih dari 1.000 Perusahaan Tutup Usaha dalam Sebulan

BITVonline.com - Selasa, 11 Juni 2024 10:08 WIB

JEPANG – Sebuah negara dengan reputasi kuat dalam industri dan ekonomi, saat ini dihadapkan pada tantangan besar. Dalam bulan Mei 2024 saja, lebih dari 1.000 perusahaan di Negeri Sakura telah mengumumkan kebangkrutan mereka. Angka ini mencatat rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam satu bulan selama lebih dari satu dekade terakhir, sejak Juli 2013. Data yang diutip dari Asahi mengungkapkan peningkatan sebesar 42,9% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Tokyo Shoko Research, sebuah lembaga riset kredit swasta, memberikan gambaran lebih jauh mengenai dampak kebangkrutan ini. Total utang perusahaan yang bangkrut pada bulan Mei mencapai 136,7 miliar yen, setara dengan Rp 14,2 triliun (dengan kurs Rp 103). Melemahnya yen dan biaya yang meningkat telah menjadi faktor utama dalam gelombang kebangkrutan ini. Selain itu, pencabutan stimulus pinjaman Covid-19, yang dikenal sebagai pinjaman ‘zero-zero’, juga turut berperan dalam menutup ribuan bisnis.

“Kebangkrutan meningkat dari tahun ke tahun di semua industri, khususnya karena tingginya harga setelah pandemi Covid-19,” demikian diungkapkan oleh lembaga tersebut dalam pemaparan pada Selasa (11/6/2024).

Data yang dirinci menunjukkan bahwa jumlah kebangkrutan terkait dengan dampak virus corona melebihi 300 untuk pertama kalinya dalam setahun, mencapai 302 pada bulan Mei tahun ini. Sementara itu, sebanyak 87 perusahaan menyatakan bangkrut akibat melemahnya yen. Mereka mengeluhkan bahwa melemahnya mata uang tersebut telah mendorong kenaikan biaya impor, seperti bahan mentah dan pasokan energi, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada keuntungan perusahaan kecil dan menengah.

“Diantara kebangkrutan yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak, angka kebangkrutan paling tinggi terutama terjadi pada industri konstruksi dan manufaktur,” tambah Tokyo Shoko Research.

Lembaga riset tersebut juga memperkirakan bahwa Jepang kemungkinan akan terus mengalami gelombang kebangkrutan di masa depan. Pasalnya, biaya pasca Covid-19 terus menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan.

“Dengan kondisi saat ini, sangat mungkin jumlah kebangkrutan akan terus meningkat,” papar perusahaan riset itu lagi.

(N/014)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Ustad Awaluddin: Tiga Amalan Utama untuk Meraih Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir

Nasional

Penyelundupan Rokok Senilai Rp380 Juta Digagalkan TNI AL di NTB

Nasional

Mediasi Gagal, Gugatan KLH terhadap PT TPL Masuk Babak Baru

Nasional

KPK Tetapkan Lima Tersangka dalam OTT di Rejang Lebong, Termasuk Bupati

Nasional

FOMO, Depresi, dan Cyber Bullying: Bahaya Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Nasional

Senator AS ‘Gertak’ Arab Saudi: Ikut Serang Iran atau Rasakan Konsekuensi!