TURKI –Pesawat maskapai nasional Israel, El Al, terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Antalya, Turki, untuk mengevakuasi seorang penumpang yang membutuhkan perawatan medis mendesak. Namun, apa yang seharusnya menjadi tindakan kemanusiaan dihadang oleh perselisihan bahan bakar yang memunculkan kontroversi antara pihak maskapai dan otoritas bandara.
Pesawat dengan nomor penerbangan LY5102 itu dalam pernyataannya menuduh pekerja di Bandara Antalya menolak untuk mengisi ulang bahan bakar, meskipun alasan pendaratan darurat itu jelas karena kondisi medis yang mendesak. Menurut El Al, satu-satunya penumpang yang sakit telah dievakuasi, namun perselisihan terkait pengisian bahan bakar membuat pesawat terjebak di landasan untuk beberapa jam sebelum akhirnya diizinkan lepas landas ke Rhodes, Yunani, untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan penerbangan ke Tel Aviv, Israel.
Hubungan antara Turki dan Israel memburuk sejak konflik di Jalur Gaza pada Oktober tahun sebelumnya, yang menyebabkan pembatalan semua penerbangan langsung antara kedua negara sejak saat itu. Meskipun demikian, sejumlah sumber diplomatik Turki mengonfirmasi bahwa bahan bakar akhirnya disediakan ke pesawat El Al atas pertimbangan kemanusiaan, meskipun kapten pesawat memilih untuk meninggalkan bandara atas keputusan sendiri setelah prosedur terkait selesai.
Pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang secara terbuka mengecam operasi militer Israel di Gaza serta dukungannya terhadap Hamas, kelompok yang dikategorikan sebagai teroris oleh Israel, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, menambah kompleksitas situasi. Erdogan sering menegaskan solidaritasnya dengan Hamas sebagai “pembela tanah air mereka”, sementara Israel dan sekutunya di Barat mengutuk Hamas atas serangan terorisnya.
Kasus pendaratan darurat ini menjadi bagian dari narasi yang lebih besar tentang ketegangan geopolitik antara Turki dan Israel, mencerminkan dinamika hubungan yang kompleks dan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah.
(N/014)