MEDAN - Kualitas udara di Kota Medan pada Jumat (2/10/2026) terpantau masuk kategori tidak sehat. Berdasarkan data indeks kualitas udara, Medan mencatat Air Quality Index (AQI) 149 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 55 mikrogram per meter kubik.
Secara umum, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang. Namun, Medan menjadi wilayah dengan indeks tertinggi dalam daftar pemantauan tersebut.
Selain Medan, beberapa wilayah lain yang dipantau mencatat kategori sedang. Sunggal memiliki AQI 57 dengan PM2.5 sebesar 12,4 mikrogram per meter kubik, Belawan AQI 57 dengan PM2.5 12,5 mikrogram per meter kubik, serta Berastagi AQI 57 dengan PM2.5 12,3 mikrogram per meter kubik.
Baca Juga: Pulang dari Kamboja Malah Bikin Judol Polda Sumut Libas 2 Pengelola 'Nexplay88' Beromzet Rp 300 Juta Kemudian Lubuk Pakam mencatat AQI 59 dengan PM2.5 sebesar 13,4 mikrogram per meter kubik. Binjai berada di angka AQI 56 dengan PM2.5 11,6 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, Pematangsiantar mencatat AQI 63 dengan PM2.5 sebesar 15,7 mikrogram per meter kubik. Deli Tua berada pada AQI 58 dengan PM2.5 12,6 mikrogram per meter kubik.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah yang dipantau berada pada kategori sedang, sedangkan Kota Medan masuk kategori tidak sehat.
Kondisi udara di Medan juga sempat disertai kabut pada Jumat pagi. Kabut tebal terlihat sekitar pukul 05.30 WIB dan disebut mengganggu jarak pandang.
Prakirawan BMKG Wilayah I Medan, Putri Diana, mengatakan hasil pengamatan METAR Stasiun Kualanamu menunjukkan adanya kabut atau haze.
"Berdasarkan pengamatan METAR stasiun Kualanamu teramati kabut/haze," kata Putri saat dikonfirmasi pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 06.47 WIB.
Menurut Putri, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan atau penurunan suhu udara pada malam hingga pagi hari. Suhu yang mencapai titik embun disertai kelembapan tinggi menyebabkan uap air berubah menjadi tetes air yang melayang dekat permukaan sehingga terlihat seperti kabut.
"Dikarenakan adanya perubahan/penurunan suhu udara di malam hingga pagi hari yang mencapai suhu titik embun dan kelembapan cenderung mencapai 100 persen, uap air tersebut kemudian menjadi tetes air yang melayang dekat permukaan sehingga tampak seperti awan," jelasnya.
Putri mengatakan kabut alami tersebut akan berangsur menghilang ketika suhu udara meningkat seiring munculnya matahari.