MEDAN - Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes Sumut) mencatat 2.334 temuan kasus HIV sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 865 kasus ditemukan pada kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumut dr. Nora Nasution mengatakan kelompok LSL menjadi kelompok dengan temuan HIV tertinggi dalam data tersebut.
"Kalau dulu perubahannya adalah di WPS, wanita pekerja seksual. Nah, sekarang sudah berubah, WPS-nya sudah rendah, sekarang di LSL, lelaki seks lelaki," ujar Nora, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga: Melonjak di Medan dan Deli Serdang, Dinkes Sumut Deteksi 27 Kasus Super Flu: Balita & Lansia Waspada Meski jumlah temuan pada kelompok LSL cukup tinggi, Nora mengingatkan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya peningkatan kasus HIV. Menurutnya, pemerintah memiliki target penemuan kasus berdasarkan estimasi jumlah kasus yang harus ditemukan setiap tahun.
"Yang kita cari itu memang kasus sebanyak-banyaknya, jadi jangan dibilang meningkat," katanya.
Penemuan kasus sejak dini menjadi bagian dari strategi pengendalian HIV hingga 2030. Dengan mengetahui status HIV lebih awal, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan dan upaya pencegahan penularan bisa dilakukan.
Selain kelompok LSL, temuan HIV juga berasal dari sejumlah kelompok lain. Pelanggan pekerja seks tercatat 255 kasus, pasangan orang dengan HIV 121 kasus, pasangan berisiko tinggi 73 kasus, wanita pekerja seksual 58 kasus dan ibu hamil 51 kasus.
Kemudian terdapat 400 kasus pada pasien tuberkulosis yang juga terinfeksi HIV. Sementara itu, populasi umum menyumbang 344 temuan, pasien dengan infeksi menular seksual 45 kasus, warga binaan pemasyarakatan 29 kasus, calon pengantin 24 kasus, waria 23 kasus, anak orang dengan HIV 22 kasus, pasien hepatitis 18 kasus serta pengguna narkoba suntik enam kasus.
Jika seluruh temuan dari berbagai kelompok tersebut dijumlahkan, totalnya mencapai 2.334 kasus HIV.
Nora mengatakan Medan dan Deli Serdang menjadi wilayah dengan jumlah temuan yang cukup banyak. Namun, data tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan domisili pasien karena sebagian warga dari kabupaten/kota lain memilih menjalani pemeriksaan dan pengobatan di Medan.
"Orang yang dari kabupaten/kota lain pun karena malu dia ketahuan dia berobat di daerahnya, dia pasti akan berobat ke sini, ke Medan," jelas Nora.
Menurut Nora, stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu kendala dalam penemuan kasus HIV. Kondisi tersebut membuat sebagian orang enggan memeriksakan diri atau terbuka mengenai faktor risiko ketika menjalani konseling.