JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengakui banyak terjadi kasus gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, salah satu faktor yang paling banyak ditemukan adalah kondisi makanan yang rusak, terutama lauk dan sayuran.
Sudaryono menyampaikan hal tersebut setelah sekitar 50 hari menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Nanik S Deyang. Dia mengatakan sebagian besar persoalan berasal dari bahan makanan yang tidak dalam kondisi baik.
"Sampai dengan sejauh ini saya kan 50 hari ya jadi Kepala BGN, kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan, itu lauk dan sayur," ujar Sudaryono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: Dari Wacana di Bawah Rp200 T ke Realisasi Rp240,2 T: Anggaran BGN Justru Membengkak Menurut Sudaryono, lauk dalam menu MBG cukup banyak menggunakan sumber protein hewani seperti ayam, telur, ikan dan daging. Bahan-bahan tersebut membutuhkan penanganan khusus agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
"Lebih banyak lauk lebih banyak didominasi oleh protein hewani. Apakah ayam, telur, ikan, daging dan sebagainya, dengan olahan lainnya," katanya.
Karena itu, Sudaryono meminta setiap dapur MBG memastikan bahan baku yang diterima benar-benar memenuhi standar sebelum diolah. Menurutnya, proses memasak yang benar tidak akan memperbaiki bahan baku yang sudah rusak.
"Sehingga kami lakukan absensi penerimaan barang, termasuk ide-ide kami yaitu memberlakukan semacam marketplace, kami lagi bangun supaya bahan-bahan baku protein hewani, khususnya ini yang spesial handle ini betul-betul kualitasnya benar, dibeli dengan harga yang benar, tidak ada mark up," tegasnya.
Sudaryono juga menyoroti potensi ketidaksesuaian antara kualitas bahan yang dibeli dengan bahan yang diterima dapur. Dia menegaskan BGN tidak ingin bahan yang dilaporkan memiliki kualitas tinggi ternyata yang datang justru memiliki kualitas jauh di bawah standar.
"Jangan sampai beli katanya beli harga beli kualitas A, tetapi ternyata yang datang kualitasnya D," ujarnya.
Untuk mencegah persoalan tersebut, BGN sedang menyiapkan sistem atau marketplace bahan baku. Sistem ini diharapkan dapat membantu memastikan kualitas bahan protein hewani sekaligus membuat proses pengadaan lebih terpantau.
Selain memperbaiki proses pengadaan, BGN juga melakukan pemeriksaan terhadap dapur MBG di berbagai daerah. Sudaryono mengatakan dapur yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenai sanksi mulai dari penghentian sementara hingga penutupan permanen.
"Dan ini terus akan kita lakukan, bahkan hampir setengah lebih ya atau setengah dari seluruh dapur itu kemudian kami periksa. Artinya yang memenuhi standar tadi 13.000 sekian, 14.000, sisanya lagi kira-kira hampir setengahnya lagi itu kami periksa," kata Sudaryono.