MEDAN - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyoroti sorotan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya ramai dibahas di media sosial. Dia menyebut guru, orang tua siswa, wartawan hingga sejumlah pihak dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) ikut membuat isu MBG menjadi perhatian.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono melalui video yang diunggah di akun Instagram @dardardar_30. Menurutnya, persoalan MBG di tingkat masyarakat tidak sebesar yang terlihat di media sosial.
"Saya bukan ngeluh, sekali lagi ini hanya cerita kondisi aja. MBG secara keseluruhan kalau anda lihat di bawah, itu orang itu nggak ada masalah sama MBG. Ini yang rame di sosmed," ujar Sudaryono, dikutip Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Geger Isu Begal Merajalela di Aceh Selatan Ternyata Cuma Hoaks Kapolres Wanti-Wanti Ancaman Pidana Penjara Sudaryono kemudian mengaitkan ramainya pembahasan MBG di media sosial dengan kepentingan ideologis dan politik.
"Kenapa ramai? Satu, adalah ideologis, ini masalah urusan politik. Nomor satu. Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum yang LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis," katanya.
Pernyataan tersebut muncul ketika kasus dugaan keracunan MBG kembali terjadi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sebelumnya, ratusan siswa di wilayah Berastagi juga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada 13 Agustus 2026. Kasus tersebut hingga kini masih dalam proses penanganan dan penyidikan.
Dalam kejadian terbaru, puluhan siswa SMKN 1 Merdeka, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada Senin (14/9/2026). Sebanyak 35 siswa dilaporkan mendapat penanganan medis di RS Amanda Berastagi, dengan sebagian di antaranya telah diperbolehkan pulang.
Kepala SMKN 1 Merdeka Mbina Bangun membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, para siswa langsung dibawa ke rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan.
"Para siswa dibawa ke Rumah Sakit Amanda. Tadi malam sudah bisa pulang lima orang, guna mendapatkan perawatan jalan," ungkap Mbina, Selasa (15/9/2026).
Makanan MBG yang dikonsumsi para siswa tersebut disebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cinta Rakyat di Kecamatan Merdeka. Pihak sekolah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah siswa yang terdampak serta kondisi masing-masing korban.
Di tengah kejadian tersebut, sejumlah pihak sebelumnya juga menyoroti kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi sebulan sebelumnya di Karo. Kasus pada 13 Agustus 2026 melibatkan 353 siswa dari sejumlah sekolah dan telah masuk tahap penyidikan.
Beberapa siswa dari kasus sebelumnya masih menjalani pengobatan. Dua siswi, Febiola dan Agnesia, bahkan dirujuk ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.