MEDAN — Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Sumatera Utara bekerja sama dengan Bio Farma menggelar vaksinasi kanker serviks bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Program ini digelar sebagai langkah pencegahan terhadap kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV), di tengah tingginya angka kasus penyakit tersebut di Sumatera Utara.
Area Manager PT Bio Farma Regional Sumatera, Yosua Bao, mengatakan angka kematian akibat kanker serviks di Sumatera Utara tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius.
Baca Juga: Pemprov Sumut Bantah Buka 9.759 Formasi CPNS 2026, Sebut Masih Tahap Verifikasi "Kalau di Sumatera Utara itu cukup tinggi, kasus kematian kanker serviks ini nomor dua setelah kanker payudara, sehingga kita perlu melakukan pencegahan secara dini dengan melakukan program vaksinasi," kata Yosua di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu, 6 Mei 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumut, pada 2021 tercatat sebanyak 213 kasus kanker serviks di Kota Medan.
Data itu menjadi dasar perlunya langkah preventif yang lebih luas, termasuk di kalangan ASN perempuan.
Dalam tahap awal, sekitar 100 ASN mengikuti vaksinasi HPV dosis pertama. Para peserta dijadwalkan menerima dosis lanjutan sesuai tahapan vaksinasi.
Yosua mengatakan pihaknya masih membuka peluang bagi ASN yang belum sempat mengikuti vaksinasi tahap pertama untuk bergabung pada pelaksanaan berikutnya.
"Kita lihat nanti waktu vaksinasi dosis kedua peserta masih antusias, kita akan buat vaksinasi dari awal untuk yang belum. Kalau vaksinasi dosis pertama saat ini ada sekitar 100 peserta," ujarnya.
Salah satu peserta vaksinasi, Nesya Sabrina, mengatakan vaksinasi menjadi langkah penting untuk mencegah kanker serviks, terutama bagi perempuan yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut.
Ia mengaku memiliki pengalaman pribadi mendampingi anggota keluarganya yang berjuang melawan kanker serviks.
"Saya punya riwayat keluarga kanker serviks, jadi ini salah satu upaya pencegahan karena rata-rata penderitanya itu tahu setelah kondisinya cukup berat," kata Nesya.