MEDAN – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat sebanyak 387 kasus suspek campak pada awal tahun 2026, dengan 18 kasus terkonfirmasi positif.
Beruntung, hingga saat ini belum ada pasien yang meninggal dunia.
"Sebanyak 387 kasus suspek campak dilaporkan per 4 Maret 2026, dengan 18 kasus terkonfirmasi positif," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Sumut, Novita Rohdearni Saragih, menyampaikan hal ini saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Terkuak! Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Dokumen Warnai Proyek Rp 500 Miliar Lapangan Merdeka Medan Novita menjelaskan capaian imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Sumatera Utara meningkat dari 80,79% pada 2024 menjadi 84,1% pada 2025.
Namun, capaian ini belum mencapai target nasional sebesar 93% karena terbatasnya stok vaksin.
"Pada 2025, stok vaksin MR tidak mencukupi karena sebagian digunakan untuk kampanye MR BIAS di bulan Agustus. Buffer dari pusat juga tidak maksimal sehingga pelayanan imunisasi di posyandu belum optimal," ujarnya.
Dari 33 kabupaten/kota, hanya delapan yang mencapai target imunisasi MR, yaitu Kabupaten Deli Serdang (122,51%), Padang Lawas (100,44%), Humbang Hasundutan (98,34%), Asahan (97,61%), Labuhanbatu (96,74%), Langkat (96,11%), Pakpak Barat (95,27%), dan Padang Lawas Utara (94,51%).
Novita menekankan pemberian vaksin MR dosis pertama belum cukup membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
Anak-anak juga perlu mendapat dosis kedua untuk perlindungan optimal sebesar 95%.
"Capaian vaksin MR dosis 2 untuk baduta di Sumut masih 83,1%, sehingga perlindungan belum merata," jelasnya.
Dinas Kesehatan Sumatera Utara berkomitmen memenuhi kebutuhan imunisasi MR secara merata di seluruh kabupaten dan kota agar kasus campak dapat ditekan dan herd immunity terbentuk.*