JAKARTA — Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) mengeluarkan peringatan keras terkait maraknya penyalahgunaan nitrous oxide (N2O) atau gas tawa berlabel Whip Pink di kalangan anak muda dan remaja.
Zat tersebut dilaporkan kerap dikonsumsi bersamaan dengan alkohol maupun obat terlarang lain, membentuk pola penggunaan ganda atau polydrug use yang berisiko tinggi.
Kepala BNN RI menilai tren penyalahgunaan gas tawa ini sangat mengkhawatirkan karena berpotensi meningkatkan risiko kematian secara drastis.
Baca Juga: Pemprov Sumut Percepat Implementasi Sumut Corporate University untuk Tingkatkan Kompetensi ASN Berdasarkan laporan intelijen BNN, penggunaan N2O dilakukan untuk mengejar sensasi euforia, dikonsumsi berulang kali, serta sering dikombinasikan dengan zat lain yang memperbesar dampak fatal bagi penggunanya.
Fenomena tersebut mendapat perhatian serius dari Lembaga Anti Narkotika (LAN) Sumatera Utara.
Wakil Ketua LAN Sumut, Hadi Dahyansyah Saragih, mendesak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara segera mengambil langkah pencegahan dan melarang keras peredaran serta penggunaan gas tawa Whip Pink, khususnya di Kota Medan.
"Kami mendesak BNNP Sumatera Utara untuk melakukan pencegahan peredaran dan melarang keras tren penggunaan Whip Pink atau gas tawa ini di kalangan remaja, khususnya di Kota Medan. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Medan jelas menjadi target yang sangat potensial bagi peredaran zat ini," ujar Hadi, Senin, 26 Januari 2026.
Gas tawa yang juga dikenal dengan sebutan nangs itu bukan sekadar tren tanpa risiko.
Mencampur N2O dengan alkohol dapat memicu hipoksia, yakni kondisi kekurangan oksigen akut pada otak, yang berpotensi menyebabkan kejang hingga kematian mendadak.
Selain risiko fatal jangka pendek, penggunaan gas tawa secara berkelanjutan juga dapat menimbulkan dampak serius pada sistem saraf.
Kekurangan vitamin B12 ekstrem akibat konsumsi N2O dalam jangka panjang berisiko merusak sumsum tulang belakang, dengan gejala mati rasa, kesemutan parah, hingga kelumpuhan total.
LAN Sumatera Utara juga mengimbau para orang tua agar lebih waspada terhadap lingkungan pergaulan anak.