JAKARTA - Kematian selebgram Lula Lahfah memunculkan pertanyaan publik mengenai kaitan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) dengan risiko kematian.
Lula diketahui memiliki riwayat GERD sebelum ditemukan meninggal dunia di apartemennya.
Menanggapi isu tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter spesialis penyakit dalam, Prof. Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa sulit memastikan satu penyakit tertentu sebagai penyebab kematian tanpa pemeriksaan medis menyeluruh.
Baca Juga: KPDBU Rumah Sakit Internasional Dibahas, Asahan Target Jadi Pusat Kesehatan Pantai Timur Sumut "Untuk satu kasus tertentu, seperti yang dialami Lula Lahfah, sangat sulit menyimpulkan kematian disebabkan oleh GERD saja," kata Prof. Ari.
Menurut Ari, berdasarkan keterangan yang pernah disampaikan Lula melalui media sosial, terdapat sejumlah riwayat penyakit lain selain GERD.
Di antaranya peradangan usus, batu ginjal, hingga infeksi ginjal, yang berpotensi berkembang menjadi sepsis, infeksi sistemik yang bisa berujung fatal.
"Yang paling dekat menyebabkan kematian adalah infeksi yang berkembang menjadi sepsis. GERD sendiri jarang menjadi penyebab langsung kematian, tetapi dapat memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan," ujar Ari.
Ia menjelaskan, pasien dengan GERD yang mengalami nyeri biasanya mendapat obat pereda nyeri atau antibiotik untuk penyakit lain.
Penggunaan obat tersebut dapat memicu kekambuhan GERD, menurunkan nafsu makan, dan memperlemah kondisi tubuh.
Selain itu, keberadaan peradangan pada saluran cerna juga dapat memperparah kondisi.
"Jika pasien mengalami mual berkepanjangan, demam, atau nyeri hebat dan tidak membaik dengan pengobatan awal, evaluasi lanjutan seperti endoskopi perlu dilakukan," katanya.
Menurut Ari, beberapa kasus menunjukkan keluhan lambung ternyata berkaitan dengan penyakit serius lain, seperti luka berat di saluran cerna atau tumor pada usus dua belas jari.