JAKARTA – Keberanian aktris Aurelie Moeremans menceritakan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming di usia 15 tahun melalui buku Broken Strings viral di media sosial.
Kisahnya membuka diskusi nasional mengenai bahaya manipulasi dan eksploitasi anak oleh orang dewasa.
Dalam buku tersebut, Aurelie menggambarkan bagaimana pelaku secara halus dan manipulatif masuk ke dalam kehidupan korban.
Baca Juga: 3 Fase Pembinaan Sepak Bola Anak untuk Mengasah Bakat dan Karakter Psikolog klinis Arnold Lukito menekankan bahwa grooming bukan sekadar interaksi biasa, melainkan proses panjang yang memanfaatkan relasi kuasa antara orang dewasa dan anak di bawah usia 18 tahun.
"Proses grooming ini melibatkan interaksi berulang, manipulasi melalui hadiah atau ajakan jalan-jalan, hingga akhirnya ada kontrol terhadap korban," jelas Arnold.Mengenali Tanda-Tanda Grooming
Orang tua dan remaja perlu waspada terhadap taktik pelaku, berdasarkan data dari NSPCC (Inggris) dan Raising Children Network (Australia):
1. Perhatian Berlebih: Pelaku membanjiri korban dengan pujian atau hadiah untuk menciptakan ikatan emosional palsu.
2. Mengisolasi Anak: Secara bertahap memisahkan anak dari keluarga dan teman agar pelaku menjadi satu-satunya sumber dukungan.
3. Testing Boundaries: Mencoba melewati batas fisik secara bertahap, dari pelukan hingga perilaku tidak senonoh.
4. Membangun Rahasia: Memerintahkan anak menjaga rahasia untuk menciptakan loyalitas yang salah.
5. Hadiah Tak Terduga: Memberikan barang atau uang sebagai alat kontrol agar korban merasa terikat atau sulit menolak permintaan pelaku.
Dampak Psikologis dan Pencegahan