JAKARTA – Lonjakan kasus influenza akibat varian baru H3N2 subclade K di beberapa negara memicu kekhawatiran publik soal kemungkinan pandemi baru.
Namun, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai kondisi saat ini belum mengarah ke pandemi.
"Kalau melihat perkembangan sekarang, super flu ini hanya akan menimbulkan gelombang penyakit flu yang lebih hebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi, belum mengarah ke pandemi," kata Prof Tjandra, Kamis (1/1/2026).
Baca Juga: RS di Malaysia Sediakan Ruang Khusus Pasien Indonesia, FKUI Soroti Fenomena Ini Menurutnya, penentuan potensi pandemi bergantung pada tiga faktor utama: mutasi signifikan virus yang menghasilkan varian baru, peningkatan tajam penularan dan keparahan penyakit, serta penyebaran lintas negara secara masif.
"Kalau ketiga faktor ini tidak terjadi bersamaan, peluang menjadi pandemi relatif kecil," jelasnya.
H3N2 bukan virus baru. Lonjakan kasus di Jepang, Kanada, AS, serta kemungkinan di Malaysia dan Thailand, disebabkan H3N2, sementara subclade K disebut telah mengalami sekitar tujuh kali mutasi.
Data AS per 30 Desember 2025 mencatat kasus influenza meningkat tajam: pasien rumah sakit mencapai 19.053 orang, hampir dua kali lipat dari pekan sebelumnya, dengan 3.100 kematian.
Prof Tjandra menekankan langkah pencegahan bagi masyarakat: menjaga kondisi, memakai masker, beristirahat, berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila gejala berat, serta vaksinasi influenza bagi kelompok rentan.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi risiko transparan dari pemerintah.
"Perkembangan virus H3N2 subclade K harus diinformasikan secara luas kepada publik dari waktu ke waktu," ujarnya.*
(d/dh)