JAKARTA – Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menyoroti pentingnya penanganan gizi anak di masa tanggap darurat.
Menurut pakar gizi dan kemanusiaan, donasi makanan untuk anak-anak tidak bisa sembarangan, sebab kondisi pengungsian seringkali minim air bersih dan sanitasi memadai.
Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah penyediaan tenda ramah ibu dan anak (PMBA) di lokasi pengungsian.
Baca Juga: Antrean Panjang SPBU di Medan, Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Di tenda ini, ibu dapat memberikan ASI atau MPASI yang steril, sementara petugas dapat memberikan edukasi gizi dan pola hidup bersih sehat (PHBS).
Selain itu, donasi sebaiknya berupa bahan makanan yang tahan lama, bergizi, dan mudah diolah, seperti beras, jagung, kentang, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan telur.
Teknologi retort pun bisa dimanfaatkan untuk mendistribusikan makanan matang yang aman secara mikrobiologis tanpa bahan pengawet, sehingga tetap sehat bagi anak-anak.
"Bencana bukan ajang promosi produk. Anak-anak harus terlindungi dari distorsi pemenuhan gizi," tegas Kumala Dewi, pengamat gizi keluarga.
Pemberian makanan yang tepat dan pendampingan psikososial juga menjadi bagian penting dalam mitigasi dampak bencana.
Aktivitas sederhana seperti membaca dongeng, bernyanyi, dan menemani anak bermain membantu mengurangi trauma psikologis akibat bencana.
Pemerintah dan masyarakat diminta bersinergi, memastikan setiap bantuan membawa manfaat nyata bagi anak-anak dan keluarga terdampak. Solidaritas yang tepat tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak agar tetap optimal di tengah krisis.
Di tengah bencana, perhatian terhadap gizi anak adalah investasi masa depan bangsa.
Donasi yang tepat, tenda ramah anak, serta edukasi gizi dan kesehatan menjadi kunci perlindungan generasi penerus.*