JAKARTA- Para miliuner dan penggemar gaya hidup anti-aging kini ramai-ramai mencoba prosedur kontroversial bernama plasmapheresis, atau yang dikenal sebagai pembersihan darah.
Dengan biaya mencapai 7.500 dolar AS (Rp124 juta) per sesi, prosedur ini diklaim mampu mengurangi racun dalam tubuh sekaligus memperlambat penuaan.
Meski begitu, manfaatnya bagi orang sehat masih diragukan secara ilmiah.
Baca Juga: Tren Botox Preventif di Usia 20-an Meningkat, Pakar Ingatkan Risiko Sejumlah ahli menegaskan, bukti medis yang mendukung tren ini masih sangat minim.
Plasmapheresis, atau Therapeutic Plasma Exchange (TPE), awalnya digunakan untuk menangani penyakit autoimun, kanker tertentu, dan kolesterol tinggi.
Namun, kini prosedur ini mulai populer di kalangan orang kaya dan selebriti untuk tujuan anti-aging.
Beberapa pengguna, seperti penyiar radio Johnjay Van Es, rela menghabiskan lebih dari Rp1,6 miliar per tahun demi metode biohacking ini.
"Tujuan saya bukan memperpanjang umur secara drastis, tetapi meningkatkan kualitas hidup dengan mengurangi beban toksik dalam darah," ujar Dr. Keith Smigiel, salah satu dokter yang menangani TPE di Scottsdale.
Prosedur ini memakan waktu 2-3 jam per sesi dan relatif tidak menyakitkan.
Pasien mungkin merasakan kelelahan ringan atau sensasi seperti jet lag.
Beberapa pengguna melaporkan peningkatan energi, fokus, dan kualitas tidur, sementara efeknya pada anti-aging masih belum terbukti.
Meskipun kontroversial, tren TPE terus menarik perhatian, terutama setelah biohacker Bryan Johnson mencoba transfusi plasma lintas generasi.