JAKARTA- Pneumonia tidak bisa dianggap penyakit musiman biasa, terutama pada bayi. Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menekankan bahwa infeksi ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bila penanganannya terlambat.
Dalam diskusi daring IDAI, Nastiti menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan pneumonia dapat menyebabkan bayi mengalami kekurangan oksigen dalam durasi lama, yang berisiko mengganggu perkembangan otak.
"Ketika ada kekurangan oksigen pada otak pada saat pertumbuhan maka akan terjadi kerusakan sel-sel otak dan itu tidak bisa kembali, akibatnya potensi kecerdasan yang harusnya bisa dicapai berdasarkan genetiknya tidak optimal," ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Baca Juga: Ribuan Umat Katolik Berdoa untuk Kesembuhan Paus Fransiskus Gangguan tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, fungsi kognitif, hingga aspek lain yang dipengaruhi kerja otak.
Risiko Paru-Paru dan Fungsi Pernapasan
Tidak hanya menyerang otak, pneumonia juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru jika penanganan terlambat.
Menurut Nastiti, kerusakan ini dapat menurunkan fungsi paru secara signifikan.
"Paru-paru yang seharusnya 100 persen bekerja optimal karena kerusakan akibat pneumonia yang gagal diatasi dengan baik ini potensinya jadi untuk fungsinya tinggal 60 persen," jelasnya.
Dampaknya dapat terasa hingga anak tumbuh besar, antara lain toleransi latihan menurun, sering sesak napas, dan kesulitan berolahraga seperti teman sebaya.
Penyebab dan Gejala
Pneumonia merupakan peradangan paru akibat infeksi virus, bakteri, atau jamur.
Pada anak balita, gejala umum meliputi batuk dan kesulitan bernapas.