JAKARTA- Diabetes melitus tidak lagi menjadi penyakit "orang tua".
Kini, anak muda pun semakin berisiko menderita diabetes tipe 2, yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan gaya hidup ketimbang faktor genetik.
Hal ini dikonfirmasi oleh spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Lavenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, FINASIM, saat menghadiri acara #Hands4Diabetes di Jakarta Selatan, Minggu (16/11).
Baca Juga: Rahasia Sehat Penderita Diabetes: Kombinasi Olahraga dan Pola Makan Efektif Menurut dr. Dicky, kebiasaan makan tinggi karbohidrat, rendah aktivitas fisik, serta konsumsi makanan olahan dan minuman manis menjadi faktor dominan meningkatnya kasus diabetes tipe 2 di kalangan anak muda.
"Misalkan banyak konsumsi makanan-makanan, processed food, ultra processed food dan tinggi karbohidrat, tinggi lemak, ditambah olahraganya kurang, banyak konsumsi minuman-minuman berpemanis dan lain sebagainya," jelas dr. Dicky.
Selain itu, pola makan tinggi karbohidrat turut meningkatkan risiko obesitas, yang menjadi pemicu diabetes tipe 2.
"Lingkungan saat ini juga banyak yang kurang mendukung untuk hidup sehat, mulai dari jajanan tidak sehat yang mudah dijangkau hingga minimnya ruang publik untuk olahraga," tambahnya.
Meski begitu, dr. Dicky menekankan edukasi kesehatan sebagai faktor kunci.
Dengan kesadaran tinggi, gaya hidup sehat dapat diterapkan, termasuk pengaturan pola makan dan aktivitas fisik yang cukup.
"Dulu kita mengira kalau muda pasti diabetes tipe 1 karena faktor genetik. Sekarang, kita juga harus mulai waspada terhadap diabetes tipe 2 pada anak muda," tegas dr. Dicky.
Kondisi ini menandai perubahan signifikan dalam epidemiologi diabetes di Indonesia, yang menunjukkan pergeseran gaya hidup masyarakat muda dan perlunya kesadaran lebih terhadap kesehatan jangka panjang.*