JAKARTA – Banyak orang masih keliru memahami arti kesehatan mental. Tidak sedikit yang menganggap seseorang disebut sehat mental bila selalu bahagia dan bebas dari stres.
Padahal, menurut para ahli, mental yang sehat bukan berarti hidup tanpa tekanan, melainkan kemampuan individu dalam mengelola emosi dan berfungsi optimal dalam keseharian.
Psikolog klinis dewasa Natasya menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak identik dengan kebahagiaan semata.
Baca Juga: Jangan Oversharing! Psikolog Sebut 7 Hal yang Tidak Perlu Diumbar ke Publik "Banyak orang berpikir kalau kesehatan mental itu berarti harus selalu bahagia. Padahal, sehat mental adalah ketika kita tetap bisa menjalani aktivitas dan berkontribusi meski di tengah tantangan hidup," ujarnya dalam diskusi "Ruang Cerita: Ngobrol Santai Tentang Kesehatan Mental" di Yogyakarta.
Menurutnya, stres merupakan bagian alami dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Hal terpenting adalah kemampuan seseorang untuk mengelola stres tersebut agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis.
"Kita mungkin tidak bisa menghindari stres, tetapi yang utama adalah bagaimana mengelolanya dengan baik agar tidak berkepanjangan dan menimbulkan dampak negatif," katanya.
Natasya menegaskan bahwa perasaan seperti sedih, marah, dan kecewa tidak menandakan seseorang lemah secara mental. Justru, kemampuan untuk menerima dan memaknai perasaan tersebut menjadi ciri individu yang sehat secara emosional.
"Sehat mental bukan berarti tidak pernah merasa sedih atau marah, melainkan bagaimana kita menghadapi dan memaknai perasaan itu agar tidak menjadi hambatan," jelasnya.
Ia menambahkan, menekan atau menyangkal emosi hanya akan memperburuk keadaan. Karena itu, setiap orang perlu memiliki ruang aman untuk mengekspresikan diri—baik melalui teman dekat, keluarga, maupun bantuan profesional seperti psikolog.
"Diri kita seperti wadah yang punya batas. Kalau terus disimpan sendiri, suatu saat akan meluap," ucapnya.
Sementara itu, psikolog dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Patricia Melati Rosari, menuturkan bahwa kelelahan mental sering kali muncul tanpa disadari. Ia menyebut tiga indikator utama yang patut diwaspadai: pikiran, emosi, dan perilaku.
"Jika pekerjaan yang biasanya bisa selesai 30 menit menjadi berjam-jam karena sulit fokus, itu tanda awal stres," kata Patricia.