JAKARTA — Imunoterapi kini menjadi salah satu terobosan paling menjanjikan dalam pengobatan kanker modern.
Tidak seperti terapi konvensional yang berfokus menghancurkan sel kanker secara langsung, pendekatan ini justru memanfaatkan sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan melawan sel ganas secara alami dan berkelanjutan.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menyebut imunoterapi sebagai revolusi besar dalam dunia onkologi."Pendekatan ini tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga mengaktifkan mekanisme alami tubuh," ujar Indi di Jakarta, Minggu (12/10).
Baca Juga: BAPPEDA Padangsidimpuan Gelar Sosialisasi Hasil Penelitian 2025, Dorong Pemanfaatan Riset untuk Pembangunan Daerah Menurut Indi, tantangan terbesar dalam pengembangan imunoterapi adalah mempercepat transisi dari riset laboratorium menuju penerapan klinis."Tantangannya adalah menjembatani hasil riset dengan penerapan nyata, agar terapi ini dapat diakses lebih luas oleh masyarakat," tegasnya.
Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Bugi Ratno Budiarto, mengungkap hasil riset terbaru yang menunjukkan keterkaitan antara mekanisme perbaikan DNA (DNA Damage Response/DDR) dengan aktivitas sel T sitotoksik (CD8) — komponen utama dalam sistem imun yang berperan menghancurkan tumor.
Menurut Bugi, paparan antigen yang berulang dapat menyebabkan "kelelahan" pada sel imun, yang diikuti oleh aktivasi protein DDR seperti ATR dan ATM.
"Menariknya, ketika proses kelelahan ini dihambat dengan inhibitor DDR, aktivitas molekul efektor seperti TNF-α dan interferon meningkat signifikan. Ini membuka peluang strategi baru dalam menjaga daya serang sel imun terhadap tumor," jelasnya.
Hasil penelitian lanjutan dengan teknik multiplex spatial proteomics juga menunjukkan bahwa sel CD8 yang mengalami kelelahan tetap aktif berinteraksi dengan sel imun lain di lingkungan tumor.
"Posisi dan interaksi antarsel ternyata sama pentingnya dengan jumlah sel imun, karena keduanya memengaruhi prognosis pasien dan efektivitas imunoterapi," tambahnya.
Kepala Pusat Riset Biomedis BRIN, Sunarno, menegaskan bahwa kekuatan riset biomedis tidak hanya diukur dari hasil laboratorium, tetapi dari dampak nyatanya terhadap masyarakat.
"Perjalanan imunoterapi dari laboratorium menuju rumah sakit mencerminkan esensi sains translasi. BRIN berkomitmen agar riset biomedis menghasilkan solusi konkret yang meningkatkan kualitas hidup manusia," ujarnya.
Dari sisi klinis, dokter Edi Setiawan Tehuteru dari RS Mayapada Tangerang memaparkan hasil penerapan imunoterapi dan transplantasi sel punca dalam pengobatan leukemia anak di Indonesia."Pendekatan ini menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan angka kesembuhan pasien," ungkap Edi.