BANDA ACEH — Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Ruddi Setiawan mengajak mahasiswa memperkuat kemampuan berpikir kritis, meningkatkan literasi digital, dan menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Ia mengingatkan masyarakat agar memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya untuk mencegah penyebaran hoaks.
Pesan tersebut disampaikan Ruddi saat mengisi Kuliah Umum Gelora Kebangsaan X yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Himadikwara) di Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK), Banda Aceh, Kamis, 15 Oktober 2026.
Baca Juga: KUHAP 2026 Beri Kewenangan Hakim Tinggi Periksa Ulang Saksi hingga Jaksa di Tingkat Banding Kuliah umum itu mengangkat tema "Demokrasi di Era Algoritma: Menjaga Identitas Bangsa dan Menangkal Hoaks".
Dalam kesempatan tersebut, Ruddi juga memperkenalkan salam dan tagline Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yakni "Salam Polisi, Polisi Bersama Masyarakat."
Menurut Ruddi, algoritma media sosial bukan sekadar sistem teknologi yang mengatur informasi yang muncul di layar pengguna.
Algoritma juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami persoalan, menerima sudut pandang, dan menentukan isu yang dianggap penting.
Karena itu, ia menilai tantangan demokrasi di era digital bukanlah menolak perkembangan teknologi, melainkan memastikan masyarakat tetap menggunakan nalar kritis saat menerima informasi.
"Algoritma dapat memengaruhi informasi yang kita lihat, sudut pandang yang kita terima, dan isu yang menjadi perhatian publik. Tantangan kita bukan menolak teknologi, tetapi memastikan algoritma tidak menggantikan nalar kritis dalam berpikir dan mengambil keputusan," ujar Abituren Akabri 1996 itu.
Ruddi juga menyoroti penyebaran berita bohong atau hoaks yang dapat berlangsung cepat di media sosial.
Menurut dia, penyebaran hoaks tidak hanya dipengaruhi perkembangan teknologi, tetapi juga kebiasaan pengguna yang langsung mempercayai dan membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Ia mengatakan, informasi yang sesuai dengan keyakinan seseorang atau disajikan menggunakan judul provokatif cenderung lebih mudah memancing reaksi.