JAKARTA — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan, Indonesia, berdampak hingga ke Sarawak, Malaysia.
Pihak berwenang Malaysia menutup sementara hampir 600 sekolah karena kualitas udara memburuk.
Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak mengumumkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah pada 20-21 Agustus 2026.
Baca Juga: TNI Siagakan 66.510 Personel untuk Tangani Karhutla di Indonesia Kebijakan itu diterapkan di Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong untuk mengantisipasi dampak kesehatan terhadap siswa.
"Berlaku efektif mulai 20 hingga 21 Agustus 2026. Penutupan ini melibatkan 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa," demikian pernyataan JPN Sarawak, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dengan demikian, penutupan tersebut mencakup 591 sekolah dengan total 197.323 siswa.
Distrik Serian menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat, Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS), indeks pencemaran udara atau API di Serian mencapai 191 dan masuk kategori tidak sehat.
Sejumlah wilayah lain di Sarawak juga mencatat kualitas udara tidak sehat. API di Kuching tercatat 181, Samarahan 178, Sri Aman 174, dan Sarikei 171.
Sementara itu, Sibu mencatat API 160. Samalaju, Bintulu, dan Mukah masing-masing berada di angka 156, sedangkan Miri mencapai 151.
Sehari sebelumnya, API Serian bahkan sempat mencapai 239 yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Dalam sistem pengukuran Malaysia, API 0-50 dikategorikan baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.