ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Israel berupaya mengganggu proses perdamaian di Timur Tengah, termasuk kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia bahkan menyebut Israel sebagai pihak yang "kecanduan perang" dan harus dicegah agar tidak kembali memicu konflik regional.
Pernyataan itu disampaikan Erdogan saat berbicara bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Istanbul, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (4/7/2026). Ia menegaskan bahwa perdamaian jangka panjang di kawasan tidak dapat tercapai tanpa keterlibatan dan dukungan negara-negara regional.
"Kami memantau dengan saksama upaya pemerintahan Israel untuk menghancurkan kesepakatan (AS–Iran). Pemerintah Israel yang kecanduan perang saat ini tidak boleh dibiarkan menenggelamkan wilayah kami dalam bau mesiu dan darah lagi," ujar Erdogan.
Baca Juga: Maroko Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026, Kanada Dibungkam 3-0 Erdogan juga menilai Israel berulang kali mencoba merusak nota kesepahaman yang dimediasi sejumlah pihak, termasuk Qatar dan Pakistan, yang mencakup rencana gencatan senjata, pembukaan Selat Hormuz, hingga pembahasan program nuklir Iran.
Di sisi lain, delegasi AS dan Iran diketahui masih melakukan pembicaraan tidak langsung untuk meredakan ketegangan setelah sejumlah insiden militer terjadi belakangan ini. Namun, proses tersebut disebut masih rapuh akibat adanya aksi saling serang dan perbedaan tafsir kesepakatan.
Sementara itu, laporan media internasional menyebutkan adanya kekhawatiran dari pejabat Amerika Serikat terkait kemungkinan Israel menargetkan sejumlah tokoh penting Iran yang terlibat dalam proses negosiasi damai. Meski demikian, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Israel.
Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah Iran dan AS kembali melancarkan serangan balasan di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.* (k/dh)