WASHINGTON DC - Iran kembali mengklaim telah menutup Selat Hormuz dan memperingatkan kapal-kapal agar menjauhi jalur pelayaran strategis tersebut. Namun Amerika Serikat (AS) membantah klaim itu dan menegaskan lalu lintas pelayaran internasional di kawasan tersebut masih berlangsung normal.
Ketegangan terbaru muncul saat Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Swiss untuk melanjutkan perundingan dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (21/6/2026).
Pernyataan penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh militer Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Teheran menyebut langkah itu diambil sebagai respons atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memuncak Iran juga menuding AS tidak menunjukkan itikad baik dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati dalam kerangka gencatan senjata sebelumnya. Televisi pemerintah Iran bahkan memperingatkan bahwa langkah lanjutan telah disiapkan apabila tindakan yang mereka sebut sebagai agresi terus berlanjut.
Meski demikian, AS langsung membantah klaim tersebut. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, menegaskan Iran tidak memiliki kendali penuh atas jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Lalu lintas kapal terus berjalan dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan kondisi itu tetap berlangsung," kata Hawkins.
Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa pemerintahannya menganggap Selat Hormuz masih terbuka. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan tidak akan ada pungutan biaya bagi kapal yang melintas selama 60 hari masa gencatan senjata.
Menurut Trump, kebijakan baru hanya akan dipertimbangkan apabila kesepakatan sementara yang telah dicapai gagal berkembang menjadi perjanjian permanen.
Di sisi lain, situasi kawasan kembali memanas setelah serangan Israel di wilayah selatan Lebanon pada Sabtu (20/6). Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 16 orang tewas, termasuk dua anak-anak, akibat serangan tersebut.
Perkembangan itu terjadi menjelang perundingan lanjutan antara delegasi AS dan Iran di Swiss. Pembahasan akan difokuskan pada implementasi kesepakatan sementara yang sebelumnya mencakup penghentian aksi militer di Lebanon serta jaminan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
JD Vance yang berangkat ke Swiss menyatakan optimistis proses negosiasi masih berada di jalur yang positif. Menurutnya, berbagai pihak tengah menyelesaikan rincian teknis untuk memperkuat kesepakatan yang sudah dicapai sebelumnya.
Selain membahas gencatan senjata, perundingan juga mencakup isu program nuklir Iran dan pengamanan stok uranium yang telah diperkaya milik Teheran.