TEHERAN – Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal pada Sabtu (20/6/2026).
Keputusan tersebut disampaikan oleh komando militer gabungan tertinggi Iran dan dikutip dari Reuters. Langkah ini disebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Amerika Serikat dan Israel.
Iran menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai "langkah awal" dalam merespons tindakan yang dianggap melanggar komitmen internasional. Teheran juga memperingatkan akan adanya langkah lanjutan jika pelanggaran terus berlanjut.
Baca Juga: Di Hadapan Ribuan Petani dan Nelayan, Gibran: Indonesia Tak Boleh Bergantung pada Negara Lain Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan menjadi salah satu titik transit utama ekspor minyak dunia. Penutupan jalur ini berpotensi memicu gangguan besar pada pasar energi global.
Sebelumnya, ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan Israel ke Lebanon yang menewaskan sejumlah korban dan memicu kekhawatiran runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Meski AS sebelumnya mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, situasi di lapangan masih menunjukkan eskalasi konflik yang belum mereda.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi lanjutan dari Amerika Serikat maupun Israel terkait keputusan terbaru Iran tersebut.*
(in/dh)