JAKARTA - Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok dinilai harus dimanfaatkan Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Poppy Sulistyaning Winanti, menilai sikap Indonesia yang terlalu berhati-hati dalam menyikapi persaingan Washington dan Beijing justru membuat posisi diplomasi Indonesia terlihat kurang tegas.
"Kecenderungannya adalah berhati-hati dalam artian tidak ingin kelihatan berpihak ke salah satu. Tapi itu juga membuat posisi pemerintah kita sering kali menjadi agak tidak jelas," kata Poppy, Jumat (15/5/2026).
Baca Juga: Shohibul: Pendidikan Indonesia Jangan Tunggu Rusak Baru Diperbaiki Menurutnya, ketidakpastian global akibat rivalitas dua negara adidaya tersebut, termasuk potensi gangguan rantai pasok energi dari Timur Tengah, harus menjadi alarm bagi Indonesia untuk mempercepat kemandirian energi nasional.
Poppy menilai pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pekan ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi.
"Ini mestinya jadi momentum yang lebih serius untuk mengembangkan renewable energy dan transisi energi yang lebih hijau," ujarnya.
Ia menegaskan langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi tingkat ketergantungan Indonesia terhadap energi impor yang selama ini masih cukup besar.
Selain mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, pemerintah juga dinilai perlu melakukan diversifikasi sumber pasokan energi dengan memperluas kerja sama dagang ke negara lain di luar pemasok utama saat ini.
Menurut Poppy, setiap gejolak harga dan distribusi energi global akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional hingga daya beli masyarakat.
Karena itu, penguatan ketahanan energi disebut menjadi salah satu langkah strategis yang harus diprioritaskan pemerintah di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.*
(mt/dh)