NEW DELHI - Pemerintah Indonesia mengangkat isu Palestina hingga keselamatan pasukan perdamaian PBB dalam pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS yang digelar di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026).
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan pentingnya peran BRICS sebagai kekuatan negara berkembang dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global.
"Nilai terbesar BRICS terletak pada penguatan suara negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan," ujar Sugiono dalam BRICS Foreign Ministers' Meeting (FMM),dikutip dari Kementerian Luar Negeri, Jumat 15 Mei 2026.
Baca Juga: RI Akan Ekspor Pupuk ke Australia di Tengah Gejolak Global, Mentan Sebut Stok Nasional Surplus Dalam forum tersebut, Indonesia kembali menegaskan dukungan penuh terhadap Palestina dan penyelesaian konflik melalui solusi dua negara atau two-state solution.
Selain itu, Sugiono juga secara khusus menyoroti gugurnya empat personel peacekeeper Indonesia yang bertugas di misi perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL.
Indonesia meminta adanya akuntabilitas penuh terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
"Keselamatan personel penjaga perdamaian PBB adalah prinsip yang tidak boleh dikompromikan," tegasnya.
Pada kesempatan itu, Indonesia juga menekankan pentingnya reformasi tata kelola global, termasuk sistem perdagangan internasional yang dinilai harus lebih inklusif, terbuka, dan non-diskriminatif.
Pemerintah turut menyatakan dukungan terhadap penguatan New Development Bank (NDB) dan mengungkapkan Indonesia tengah menyelesaikan proses internal untuk bergabung.
BRICS tahun ini berlangsung di bawah keketuaan India dengan tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability".
Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di India.*
(mt/dh)