BEIJING – Gedung Putih menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk menjamin kelancaran arus energi global.
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan keduanya di Beijing yang disebut berlangsung dalam suasana "baik".
"Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas," kata Gedung Putih dalam pernyataan resminya, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga: Menkomdigi Ungkap Fakta Mengejutkan: Hampir 200 Ribu Anak Indonesia Terpapar Judol, 80 Ribu di Bawah Usia 10 Tahun Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia.
Kawasan tersebut kembali menjadi sorotan setelah ketegangan militer meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu.
Teheran sebelumnya dilaporkan sempat mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan selat tersebut di tengah konflik.
Amerika Serikat kemudian merespons dengan memperketat blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran, meski gencatan senjata rapuh telah diberlakukan sejak awal April.
Di sisi lain, China sangat bergantung pada jalur tersebut.
Menurut data perusahaan analis maritim Kpler, lebih dari separuh impor minyak mentah China melalui jalur laut berasal dari Timur Tengah dan melintasi Selat Hormuz.
Gedung Putih juga menyebut Xi Jinping menyatakan ketertarikan untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan pada jalur tersebut.
Namun, pernyataan resmi pemerintah China tidak menyebut adanya komitmen tersebut.
Kementerian Luar Negeri China hanya menyampaikan bahwa kedua pemimpin membahas berbagai isu global, termasuk konflik Timur Tengah, perang Ukraina, dan situasi Semenanjung Korea.