WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan awal berupa memorandum saling pengertian untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung, sekaligus membuka jalan bagi negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran.
Laporan tersebut disampaikan oleh situs berita Axios yang dikutip Anadolu, Kamis (7/5/2026). Washington disebut masih menunggu respons Iran terkait sejumlah isu krusial dalam waktu 48 jam ke depan.
Meski belum ada kesepakatan final, sumber dalam laporan itu menyebut kondisi saat ini merupakan titik terdekat kedua negara untuk mencapai kesepakatan sejak perang pecah.
Baca Juga: Perry Warjiyo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah ke Dolar AS: Faktor Global dan Musiman Jadi Pemicu Utama Rancangan kesepakatan tersebut mencakup penghentian sementara pengayaan uranium oleh Iran. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut sebagian sanksi, membebaskan dana yang dibekukan, serta melonggarkan pembatasan transit di Selat Hormuz.
Namun demikian, sejumlah ketentuan masih bersifat dinegosiasikan dan belum final, sehingga risiko eskalasi konflik maupun gagalnya gencatan senjata masih terbuka.
Laporan itu juga menyebut Presiden AS Donald Trump disebut menunda operasi militer baru di kawasan Selat Hormuz demi menjaga momentum gencatan senjata yang masih rapuh.
Memorandum yang terdiri dari 14 poin tersebut tengah dibahas oleh utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bersama pejabat Iran melalui jalur langsung maupun mediator.
Draf kesepakatan itu akan membuka fase negosiasi selama 30 hari yang membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi. Lokasi pembicaraan lanjutan disebut kemungkinan digelar di Islamabad atau Jenewa.
Jika pembicaraan gagal, AS disebut masih memiliki opsi untuk kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer di kawasan tersebut.*
(mt/dh)