FLORIDA— Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan segera "mengambil alih" Kuba.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah acara di Florida, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana.
"Kuba, yang akan kita rebut hampir segera," kata Trump, Sabtu, 2 Mei 2026, seperti dikutip Anadolu Agency.
Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Sebut Pupuk Indonesia Mampu Jaga Pasokan di Tengah Gejolak Geopolitik Global Trump mengisyaratkan kemungkinan pengerahan kekuatan militer, termasuk kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan dekat Kuba.
Ia menyebut salah satu kapal induk, USS Abraham Lincoln, dapat ditempatkan sekitar 100 yard dari lepas pantai Kuba sebagai bentuk tekanan.
Dalam pernyataannya, Trump juga mengaitkan langkah tersebut dengan operasi militer Amerika Serikat di kawasan lain, termasuk Iran, yang sebelumnya menjadi sorotan kebijakan luar negeri Washington.
"Dalam perjalanan pulang dari Iran, kita akan memiliki salah satu kapal induk besar kita, mungkin USS Abraham Lincoln, yang terbesar di dunia, kita akan membiarkannya datang dan berhenti sekitar 100 yard dari lepas pantai," ujarnya.
Selain pernyataan tersebut, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memperketat sanksi terhadap individu dan entitas yang terkait dengan Kuba, dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pemerintah Kuba menanggapi keras tekanan dari Washington. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan negaranya siap menghadapi setiap bentuk agresi.
"Setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan," tulis Diaz-Canel dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyebut langkah reformasi ekonomi Kuba belum cukup untuk memenuhi tuntutan Washington terkait perubahan sistem politik dan ekonomi di negara tersebut.
Kuba sendiri menyatakan terbuka untuk dialog dengan Amerika Serikat, namun menegaskan tidak akan mengubah sistem politiknya.*