ISTANBUL – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan melakukan perundingan dalam kondisi tekanan, ancaman, maupun blokade. Ia menekankan bahwa dialog hanya dapat dilakukan dalam situasi yang kondusif dan setara.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Sabtu (25/4/2026), sebagaimana dilaporkan kantor kepresidenan Iran.
Menurut Pezeshkian, pengalaman sebelumnya dalam proses negosiasi justru menimbulkan ketidakpercayaan publik di Iran karena dialog kerap berjalan beriringan dengan sanksi dan tekanan dari pihak lain.
Baca Juga: Menlu Turki Hakan Fidan Sebut Israel Jadi Ancaman Langsung bagi Keamanan Global "Iran tidak akan berunding di bawah tekanan, ancaman, atau blokade," tegasnya.
Ia menambahkan, syarat utama untuk membuka kembali jalur dialog adalah penghentian sikap permusuhan serta adanya jaminan bahwa tekanan serupa tidak akan kembali terjadi di masa depan.
Pezeshkian juga menyoroti meningkatnya kehadiran militer di sejumlah kawasan yang dinilai semakin memperumit situasi dan menghambat proses diplomasi.
Pernyataan ini muncul di tengah upaya Pakistan yang disebut berperan mendorong kembali pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat, setelah meningkatnya ketegangan di kawasan dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, sejumlah putaran awal perundingan yang berlangsung di Islamabad dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan konkret untuk meredakan konflik regional yang terus berkembang.
Hingga kini, Iran menegaskan tetap membuka ruang diplomasi, namun dengan syarat tidak berada di bawah tekanan eksternal.*
(an/dh)