WASHINGTON – Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Hizbullah selama tiga minggu. Kesepakatan ini dicapai setelah pembicaraan tingkat tinggi yang digelar di Gedung Putih, Kamis (23/4/2026) waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump menyebut pertemuan antara perwakilan kedua negara berlangsung "sangat baik" dan menjadi langkah lanjutan dari dialog yang sebelumnya telah dimulai pekan lalu. Gencatan senjata awal selama 10 hari yang berlaku sejak Jumat lalu sejatinya akan berakhir pada Senin.
"Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah," ujar Trump melalui akun media sosial Truth Social.
Baca Juga: Tarif AS Tembus 143%, RI Pertimbangkan Hentikan Ekspor Panel Surya Dalam pertemuan tersebut, Trump turut menerima Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad dan Duta Besar Israel Yechiel Leiter. Hadir pula sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Pemerintah Lebanon menyambut baik upaya diplomasi tersebut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut perpanjangan gencatan senjata ini sebagai langkah awal menuju negosiasi yang lebih luas, termasuk penghentian serangan, penarikan pasukan Israel, hingga proses rekonstruksi wilayah terdampak perang.
Namun di sisi lain, kelompok Hizbullah menolak keterlibatan dalam perundingan langsung dan menegaskan tidak akan terikat pada kesepakatan yang dihasilkan dari pembicaraan tersebut.
Ketegangan di kawasan ini kembali meningkat setelah konflik terbaru pecah, ditandai dengan saling serang roket dan pemboman lintas perbatasan antara Israel dan Hizbullah.*
(mt/dh)