JAKARTA – IRAN kembali mengancam akan menutup Selat Hormuz apabila Amerika Serikat (AS) melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Teheran. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan jalur energi strategis dunia tersebut.
Pemerintah Iran menegaskan kembali sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat dengan menyatakan kemungkinan penutupan Selat Hormuz jika blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran terus dilakukan. Jalur perairan strategis itu sebelumnya sempat dibuka kembali usai kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital perdagangan energi global, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Baca Juga: Iran Klaim Buka Selat Hormuz, Ratusan Kapal Masih Tertahan Termasuk 2 Kapal Indonesia di Teluk Persia Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa akses melalui selat tersebut tidak bisa dipisahkan dari kepentingan kedaulatan Iran.
"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf dalam unggahan di platform X, Sabtu (18/4/2026), seperti dilaporkan AFP.
Ia menambahkan bahwa pengaturan lalu lintas di selat tersebut berada dalam kendali penuh Iran, bukan sekadar wacana di ruang digital.
"Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, tetapi ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kami tahu bagaimana harus bertindak," tegasnya.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, memperingatkan bahwa setiap tindakan blokade laut oleh AS akan dibalas dengan respons tegas dari Teheran.
"Apa yang mereka sebut blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan akan dibalas dengan tindakan yang diperlukan," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut adanya peluang kesepakatan damai dengan Iran yang disebut semakin dekat. Trump bahkan mengklaim Iran bersedia menyerahkan sebagian persediaan uranium yang diperkaya, meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran.
Iran menegaskan bahwa persediaan uranium mereka tidak akan dipindahkan ke pihak lain, sekaligus membantah adanya kesepakatan seperti yang disebutkan Washington.
Ketegangan ini kembali memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia dan menjadi titik sensitif dalam konflik geopolitik kawasan Timur Tengah.*