ISLAMABAD - Pemerintah Pakistan meminta Amerika Serikat dan Iran tetap menjaga gencatan senjata meski perundingan terbaru di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan pihaknya telah berupaya maksimal memediasi negosiasi intensif antara kedua negara.
"Saya bersama Kepala Angkatan Darat membantu menengahi beberapa putaran negosiasi yang intens dan konstruktif," ujar Dar, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: Iran Tuduh AS Cari-cari Alasan Tinggalkan Perundingan, Negosiasi di Pakistan Buntu Ia menekankan pentingnya menjaga komitmen terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada 8 April lalu demi stabilitas kawasan.
"Pakistan akan terus memainkan perannya dalam memfasilitasi keterlibatan antara Iran dan AS," tegasnya.
Dar juga mengapresiasi kesediaan kedua pihak menerima usulan Perdana Menteri Shehbaz Sharif terkait gencatan senjata selama dua pekan.
Meski demikian, perundingan berakhir buntu setelah kedua pihak saling menyalahkan. Media pemerintah Iran menyebut tuntutan Washington tidak masuk akal.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan delegasi AS telah bersikap fleksibel, namun belum mencapai kesepakatan.
Perundingan di Islamabad ini menjadi sorotan global karena merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqir Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Sementara delegasi AS dipimpin JD Vance, didampingi Jared Kushner dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff.
Konflik terbaru dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu, yang berdampak pada stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Dalam perundingan tersebut, Iran mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk pencabutan sanksi dan kendali atas Selat Hormuz.*