JAKARTA - Pemerintah Indonesia menyambut positif pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan.
Negosiasi tersebut dinilai sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik secara damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan Indonesia melihat perkembangan ini sebagai momentum penting untuk menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Baca Juga: Seskab Teddy Sebut 96 Juta Warga Lebih Percaya Prabowo, Singgung ‘Inflasi Pengamat’ "Ini adalah perkembangan yang menggembirakan dan membantu menjaga saluran komunikasi tetap terbuka, serta menciptakan ruang untuk diplomasi," ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, proses negosiasi tersebut menjadi pintu awal dalam mendorong solusi damai dan berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Indonesia juga menyampaikan tiga poin penting kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik.
Pertama, menahan diri secara maksimal guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Kedua, menghormati kedaulatan dan integritas wilayah. Ketiga, mengedepankan dialog dan diplomasi.
"Perkembangan ini merupakan langkah awal yang positif dan mendorong semua pihak untuk memperkuat deeskalasi," katanya.
Di sisi lain, Indonesia juga mengecam serangan yang masih berlangsung di Lebanon. Pemerintah menilai tindakan tersebut berpotensi merusak momentum perdamaian yang sedang dibangun.
"Serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan berisiko memperburuk ketegangan regional," ujar Vahd.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad sendiri difasilitasi oleh Pakistan setelah tercapainya gencatan senjata selama 14 hari.