BEIRUT – Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 1.953 orang tewas akibat serangan militer Israel sejak 2 Maret 2026.
Ratusan korban di antaranya dilaporkan tewas hanya dalam satu hari serangan.
Dalam laporan terbaru yang dikutip dari Middle East Eye, Sabtu, 11 April 2026, sebanyak 357 orang tewas pada Rabu, 8 April 2026, sehari setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Istana: Pemerintah Tak Tarik Pasukan TNI dari Misi Perdamaian UNIFIL Lebanon Pejabat Lebanon menyebut sebagian besar jenazah korban hingga kini belum teridentifikasi akibat intensitas serangan yang terus berlangsung di sejumlah wilayah.
Sejak awal Maret, Israel dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Lebanon.
Eskalasi konflik meningkat setelah sebelumnya Israel dan Iran terlibat serangan militer yang turut menyeret keterlibatan Amerika Serikat pada akhir Februari.
Serangan tersebut disebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan yang beredar di tengah konflik yang masih berkembang.
Ketegangan kemudian berlanjut dengan aksi balasan dari kelompok bersenjata di Lebanon, termasuk Hizbullah yang meluncurkan serangan ke wilayah Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel disebut terus menggempur sejumlah wilayah Lebanon tanpa jeda, memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan tersebut.
Di tengah eskalasi konflik, pemerintah Lebanon berupaya membuka jalur diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Kedua pihak dilaporkan sepakat memulai perundingan damai pada 14 April 2026 di Amerika Serikat.
Pertemuan awal disebut akan melibatkan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad, dengan mediasi dari Duta Besar AS untuk Lebanon Michael Issa.