BEIRUT — Serangan udara Israel ke Lebanon pada Rabu, 9 April 2026, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai ratusan lainnya.
Serangan ini terjadi tak lama setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Otoritas Pertahanan Sipil Lebanon menyebutkan sebanyak 837 orang mengalami luka-luka, sementara puluhan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan.
Baca Juga: Meski Dolar AS Melemah, Rupiah Masih Stagnan di Rp17.030/US$ Tim penyelamat terus melakukan pencarian korban di sejumlah lokasi yang terdampak.
Serangan dilaporkan menghantam berbagai wilayah, termasuk ibu kota Beirut.
Dalam waktu sekitar 10 menit, lebih dari 100 serangan udara diluncurkan ke kawasan padat penduduk, memperparah kondisi kemanusiaan di negara tersebut.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi yang terjadi sebagai eskalasi berbahaya.
"Serangan ini menargetkan warga sipil di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan wilayah selatan," ujarnya.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk menargetkan kelompok Hizbullah.
Juru bicara IDF, Avichay Adraee, mengatakan aktivitas kelompok tersebut memaksa Israel untuk bertindak.
Di sisi lain, Israel juga mengonfirmasi satu tentaranya, Sersan Staf Touvel Yosef Lifshiz, tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan.
Serangan ini memicu reaksi keras dari Iran. Sejumlah pejabat Teheran menyerukan langkah tegas sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi Israel.