JAKARTA — Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk memberlakukan gencatan senjata selama dua pekan mulai Selasa (7/4/2026), setelah lebih dari sebulan konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Kesepakatan ini menandai kemenangan diplomatik bagi Teheran, karena Washington menyetujui 10 tuntutan yang diajukan Iran untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan perundingan damai.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan pentingnya menjaga persatuan nasional dan melanjutkan perayaan kemenangan selama periode gencatan senjata.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.999 Hari Ini, Sentimen Meredanya Ketegangan Global Dorong Pemulihan Pasar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menambahkan bahwa jalur aman melalui Selat Hormuz, yang sempat ditutup akibat operasi militer AS dan Israel, akan dibuka kembali dengan koordinasi Angkatan Bersenjata Iran.
Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan ini sebagai "gencatan senjata dua arah" dan menegaskan pihaknya telah memenuhi tujuan militer sekaligus menerima proposal 10 poin Iran sebagai dasar negosiasi perdamaian jangka panjang.
Trump optimistis sebagian besar perbedaan antara AS dan Iran telah berhasil dijembatani.
10 Tuntutan Iran yang Disetujui AS
Berdasarkan laporan Tasnim News Agency, 10 tuntutan Iran yang menjadi dasar gencatan senjata adalah:
- Komitmen AS untuk menjamin non-agresi- Kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz- Pengakuan hak pengayaan uranium Iran- Pencabutan semua sanksi primer- Pencabutan semua sanksi sekunder- Pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan PBB- Pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur IAEA- Pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan terhadap Iran- Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan- Penghentian perang di semua front, termasuk perlawanan di Lebanon
Israel mendukung keputusan Trump untuk menangguhkan serangan selama dua minggu dengan syarat Teheran membuka Selat Hormuz dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara tetangga.
Namun, kantor Perdana Menteri Israel menegaskan gencatan senjata ini tidak mencakup Lebanon, meski Pakistan sebagai mediator menyatakan sebaliknya.
Kesepakatan ini dianggap penting bagi stabilitas jalur perdagangan minyak dan gas global, sekaligus menjadi momentum diplomasi strategis antara AS, Iran, dan sekutu regional.*