TEHERAN – Iran merespons dengan keras ultimatum yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.
Trump sebelumnya mengancam Iran dengan batas waktu 48 jam untuk membuka jalur vital tersebut atau menghadapi "malapetaka".
Dalam postingannya di platform Truth Social, Trump menulis, "Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua malapetaka menimpa mereka."
Baca Juga: Kualitas Trotoar Medan Ditingkatkan, Rico Waas: Harus Memiliki Ruang Hijau dan Pencahayaan yang Baik Namun, respons Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, dengan tegas menyatakan bahwa ancaman Trump justru menunjukkan ketidakberdayaan dan kebodohan Amerika Serikat.
Ia mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur militer AS dan Israel jika mereka berani melancarkan agresi terhadap Iran.
"Jika musuh AS-Zionis melakukan agresi apa pun, kami akan, tanpa batasan, menjadikan semua infrastruktur yang digunakan oleh tentara teroris AS, serta infrastruktur rezim Zionis, sebagai sasaran serangan terus-menerus dan dahsyat," ujar Aliabadi, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Kendati ketegangan antara kedua negara terus meningkat, ini bukanlah kali pertama Trump memberikan ultimatum terkait Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada 21 Maret 2026, Trump juga mengancam untuk menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat.
Namun, dua hari setelah peringatan tersebut, Trump sedikit melunak, menyatakan bahwa percakapan dengan Iran berjalan positif.
Bahkan, Trump memutuskan untuk menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Iran tetap menunjukkan sikap keras dan menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka Selat Hormuz begitu saja.