LONDON – Sekitar 40 negara mulai membentuk koalisi internasional untuk mencari solusi membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Inisiatif ini dilakukan tanpa keterlibatan Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negara lain harus bertanggung jawab sendiri atas keamanan jalur tersebut.
Pertemuan virtual yang dipimpin Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, pada Kamis (2/4/2026), diikuti lebih dari 40 negara termasuk Perancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, dan India.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.985, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia? Dalam pembukaan rapat, Cooper menekankan bahwa blokade Iran berdampak luas terhadap ekonomi global. "Tindakan ceroboh Iran dalam memblokade jalur ini berdampak pada rumah tangga dan bisnis di seluruh dunia," ujarnya.
Strategi Koalisi
Koalisi internasional ini membahas berbagai langkah mulai dari tekanan diplomatik hingga sanksi ekonomi, dengan opsi militer seperti pembersihan ranjau laut dan pengawalan kapal komersial baru dipertimbangkan setelah kondisi mereda.
Juru bicara militer Perancis, Guillaume Vernet, menekankan pentingnya koordinasi angkatan laut dan udara serta berbagi intelijen antarnegara.
Meski begitu, hingga pertemuan pertama belum ada kesepakatan konkret yang dicapai. Koalisi menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah mobilisasi instrumen diplomatik dan ekonomi untuk memastikan jalur kembali terbuka secara aman dan berkelanjutan.
Dampak Global
Blokade Selat Hormuz, jalur yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, telah memicu lonjakan harga energi global.
Cooper menekankan dampaknya terasa luas, termasuk harga bensin dan suku bunga hipotek di Inggris, bahan bakar jet di seluruh dunia, pupuk untuk Afrika, dan gas untuk Asia. Beberapa negara juga mendorong pembentukan koridor kemanusiaan untuk memastikan distribusi pasokan penting tetap berjalan.
AS Dorong Negara Lain Ambil Tindakan